20 Jan 2012

KOMPeK 14, INSIGHT

KOMPeK - Kompetisi Ekonomi - adalah sebuah wadah kompetisi bidang ilmu ekonomi yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan ditujukan bagi pelajar SMA/SMK seluruh INDONESIA.


KOMPeK telah menempatkan posisinya sebagai kompetisi ekonomi yang terbesar dan terprestise di antara kompetisi-kompetisi sejenis.

KOMPeK telah berlangsung selama lebih dari SATU DEKADE, dan pada tahun 2012 akan dilangsungkan KOMPeK untuk ke-14 kalinya dengan tema "INSIGHT: Improving National Strengths on Investment, Goods Quality, and Human Resources for Global Trading". Secara umum, KOMPeK 14 akan mengkaji bagaimana Indonesia mempersiapkan dirinya menghadapi persaingan global yang semakin kompetitif. Lebih spesifik, tiga hal akan kami kaji lebih dalam yakni investasi, kualitas produkm dan sumber daya manusia. Diatas semuanya, KOMPeK 14 berharap dapat meningkatkan awareness pelajar untuk memberikan kontribusinya secara riil bagi Indonesia dalam menghadapi persaingan global.


Secara garis besar,
KOMPeK terbagi atas 4 cabang lomba utama:
1. Economics Quiz
2. Economics Debate Competition
3. Economics Research Paper Competition
4. Business Challenge


Economic Quiz adalah cabang lomba KOMPeK 14 yang ditujukan untuk menguji kompetensi keilmuan peserta di bidang ekonomi, akuntansi, dan manajemen. EQ ditargetkan untuk diikuti oleh 100 tim peserta, di mana setiap tim yang mendaftar berhak mengikuti tahap seleksi regional dengan pembagian region berdasar kepada domisili sekolah peserta. Seleksi regional akan mensyaratkan peserta untuk mengerjakan tiga buah soal, satu soal teori ekonomi, satu soal teori akuntansi, dan satu soal studi kasus. Hasil pemeringkatan seleksi regional akan dijadikan acuan untuk memilih 40 tim terbaik yang akan berlomba di tingkat final. Ke-40 peserta kemudian akan saling berlomba melalui berbagai babak untuk memperebutkan tempat di 18 terbaik, 9 terbaik, 3 terbaik, dan kemudian untuk menjadi Juara EQ KOMPeK 14.

Pembagian wilayah regional:

Regional1: Sumatera

Regional2: Jawa

Regional3: Kalimantan dan Sulawesi

Regional4: Bali, NusaTenggara, Maluku, dan Papua

Note: pembagian regional dan kuota berdasarkan peta sebaran prestasi dalam lomba-lomba Ekonomi dan tingkat partisipasi. Penghitungan kuota akan dilakukan sebagai berikut: diambil 8 tim terbaik dari regional 1, 2, 3 dan 4. Kemudian tempat berikutnya akan diisi oleh 8 tim terbaik berdasarkan peringkat nasional keseluruhan. Jawaban soal analisis peserta akan diperiksa oleh juri yang telah ditentukan oleh panitia dan akan diambil 40 tim dengan jawaban analisis terbaik.


Economics Debate Competition disusun sebagai ajang uji kompetensi siswa sekolah menengah atas dari segi pemahaman, kemampuan analisis, dan kemampuan penyampaian gagasan ilmiah secara lisan dalam Bahasa Inggris. Peserta EDC merupakan tim yang terdiri atas 3 orang dari sekolah yang sama. Masing – masing tim dituntut untuk mampu menentukan pendirian atas suatu mosi tertentu, menyusun fundamen argumen yang mendukung pendiriannya, menyajikan data dan fakta yang valid, serta menyampaikannya kepada khalayak umum, yang diwakili adjudicator dalam hal ini, melalui penyampaian yang sederhana, atraktif, meyakinkan, namun tetap beridiri di atas koridor keilmiahan yang dapat dipertanggungjawabkan. EDC KOMPeK 14 mengadopsi sistem Asian Parliamentary.


Economics Research Paper bertujuan untuk membangun minat siswa sekolah menengah atas untuk berlomba dalam penelitian dan penulisan karya tulis, khususnya pada bidang ekonomi. Peserta ERP dapat merupakan individu – individu atau tim yang beranggotakan maksimal tiga orang. ERP menggunakan karya tulis sebagai media yang diuji dalam perlombaan. Hal ini mengacu pada tradisi keilmiahan di mana karya tulis sebagai bagian dari tulisan akademis secara umum merupakan sarana utama penyampaian gagasan dan ide ke kalangan yang lebih luas. Tema karya tulis yang disusun peserta diharuskan mengacu kepada tema besar ERP KOMPeK 14, yaitu “Penguatan Daya Saing Indonesia dalam Menyongsong Perdagangan Global” Karya tulis yang disusun oleh peserta diharapkan paling tidak memenuhi dua kriteria, yaitu kritis dan sistematis.


Business Challenge merupakan kompetisi yang dirancang untuk menguji kompetensi dan naluri bisnis manajemen siswa sekolah menengah atas. Peserta BC merupakan tim yang terdiri atas 3 – 5 orang dari satu sekolah yang sama. BC akan terbagi dalam tiga fase, yakni Business Plan, Business Case, dan Business Presentation serta dua kegiatan subsider (Business Clinic dan Consultation Session & Presentation Preparation). Masing-masing fase menunjukkan kemampuan peserta dalam merencanakan bisnis, menciptakan ide bisnis baru secara cepat dan tepat, serta mengajukan bisnisnya ke khalayak.


(download)

Tidak hanya terdiri dari perlombaan ilmiah, KOMPeK 14 turut memberikan value added kepada peserta dan guru pendamping lewat:

KOMPeK Gathering adalah acara yang dibuat untuk mengenalkan peserta dan guru pendamping dengan peserta dari daerah maupun sekolah lain. Acara ini sekaligus bertujuan menyambut dan mengakrabkan seluruh peserta KOMPeK 14. Dengan demikian, suasana perlombaan akan dimulai dengan sesuatu yang menyenangkan. KOMPeK Gathering akan memperkenalkan para peserta dengan Liaison Officer mereka masing-masing sehingga tidak terjadi miss communication diantara mereka. Selain itu, dalam gathering ini tak lupa diadakan briefing kegiatan berikut teknis H1 KOMPeK 14 oleh panitia.


Talkshow KOMPeK merupakan salah satu side event dalam rangkaian kegiatan KOMPeK 14. Talkshow KOMPeK diadakan bagi semua peserta lomba dan guru pendamping yang turut serta. Acara ini menjadi value added tersendiri bagi para peserta, karena talkshow ini akan membahas tentang tema yang diangkat. Dengan demikian mereka akan memiliki basis pengetahuan tentang tema besar, yaitu INSIGHT (Improving National Strenghts on Investment, Goods Quality, and Human Resource for Global Trading)Tema yang akan diangkat dalam talkshow kali ini adalah “Meningkatkan Kompetensi Bisnis sebagai Roda Penggerak Perdagangan Bebas Indonesia”.

Pembicara: Menteri Perdagangan Republik Indonesia - Bpk. Gita Wirjawan ; Presiden Direktur Astra Daihatsu Motor - Bpk Sudirman MR ; Akademisi FEUI - Prof. Lepi T & Ibu Lana S

Tempat: Auditorium Kementrian Perdagangan Republik Indonesia

 

KOMPeK Journey membawa para peserta untuk jalan–jalan ke perusahaan Indonesia yang telah mengukuhkan eksistensinya di pasar global. Pada kesempatan kali ini, KOMPeK 14 akan membawa peserta untuk melihat langsung ke salah satu tempat yang dapat menjelaskan ketiga komponen penting yang dibutuhkan untuk meningkatkan competitiveness Indonesia.

Tempat: Garuda Indonesia Training Center


Training Guru KOMPeK juga mengadakan training untuk para guru pendamping peserta lomba. Pertimbangan kami karena guru termasuk salah satu faktor dalam proses pencerdasan dan pengembangan potensi murid–muridnya. Karena itulah, guru juga perlu mendapat perhatian khusus agar metode pencerdasan yang disampaikan efektif, efisien serta tepat guna, dan output yang dihasilkan pun maksimal. Training guru kali ini mengangkat tema Mempersiapkan Generasi Muda Menghadapi Perdagangan Global”. Melalui training ini guru diharapkan dapat menyiapkan para siswanya, sebagai generasi muda yang akan membawa Indonesia dalam menghadapi persaingan global. Untuk menambah value added dalam training kali ini, akan diadakan diskusi kecil. Mereka akan membentuk kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang yang akan mendiskusikan suatu kasus yang diberikan. Kemudian di akhir diskusi, mereka akan memberikan kesimpulan atas hasil diskusi mereka yang akan mendapat tanggapan dari pembicara. Diharapkan melalui hal tersebut, training akan menjadi lebih menarik dan komunikatif serta juga dapat saling mengenal antar sesama peserta training.

Pembicara: Akademisi FEUI - Bpk Faisal Basri ; Akademisi FPsiUI - Bpk Budi


Presentasi Fakultas ini dibuat untuk mengenalkan FEUI kepada para peserta. Acara ini juga menjadi salah satu sarana yang efektif untuk mempromosikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia kepada pada peserta. Selain itu, presentasi fakultas juga memberikan informasi-informasi umum seperti sejarah umum FEUI, program-program yang ada di FEUI, prestasi-prestasi yang telah diraih oleh FEUI, peraturan umum FEUI, dan beasiswa yang terdapat di FEUI. Dalam presentasi fakultas ini akan dibawakan juga sesi talkshow untuk membahas setiap jurusan yang ada di FEUI yang akan dibawakan oleh mahasiswa yang telah berprestasi dalam berbagai aspek, sehingga diharapkan mereka dapat membagikan tips dan trik mereka dalam menghadapi pembelajaran serta kehidupan di FEUI. Acara presentasi ini juga akan tergabung dengan talkshow dari pihak Dekanat FEUI. Diharapkan talkshow ini dapat memberikan insight bagi para peserta yang tertarik untuk memasuki FEUI, dan ingin mengetahui lebih banyak tentang FEUI

 

UPDATE!!! (12 Januari 2012)

Pendaftaran dan pengiriman naskah softcopy KOMPeK 14 diperpanjang sampai 20 JANUARI 2012 CAP POS

UPDATE!!! (20 JANUARI 2012)

Pendaftaran KOMPeK 14 resmi DITUTUP! Silabus, Guideline, dan Prepared Motions sudah dapat diakses melalui www.kompekfeui.com

UPDATE!!! (3 FEBRUARI 2012)

Pengumuman sekolah yang lolos berlomba di FEUI sudah dapat diakses melalui www.kompekfeui.com


Info lebih lanjut:

Twitter @kompekfeui ~ Facebook "Kompek FEUI" ~ Website www.kompekfeui.com

25 Nov 2011

The 34th Jazz Goes To Campus

(download)

Berawal dari sebuah pesta musik sederhana di taman Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Salemba pada tahun 1978, yang digagas oleh Chandra Darusman dan kawan-kawan, The 1st Jazz Goes to Campus yang kemudian mendapat akronim populer, JGTC, memulai debutnya. JGTC diadakan setahun setelah North Sea Jazz Festival, yang merupakan event musik Jazz tertua di dunia. Hal ini membuat JGTC menjadi event musik Jazz tertua kedua di dunia, dan tertua di Indonesia. Acara festivaljazz tertua di Indonesia ini, diselenggarakan oleh para mahasiswa yang mencintai musik jazz dan ingin membagi semangat musik yang mereka miliki. Semangat ini pun telah hidup dan menyala sejak dulu hingga pelaksanaan Jazz Goes To Campus Festival yang ke-34, yang akan dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2011.

Semangat yang hadir ditengah pelaksanaan Jazz Goes To Campus merupakan manifestasi dari nilai yang ada sejak Candra Darusman menyelenggarakan acara ini pertama kalinya di tahun 1978. Value of Jazz menggambarkan musikalitas jazz yang unik, rumit, dan bercirikan kebebasan. Karakteristik jazz ini sulit dinikmati tanpa adanya unsur kreativitas yang nantinya akan menerjemahkan kompleksitas dari karakter Jazz. Kreativitas yang tercipta tidak dapat dinikmati oleh para penonton tanpa adanya cita rasa artistik yang mensinergikan unsur kreativitas dengan ekspektasi kepada Jazz Goes to Campus. Keseluruhan sistem yang diciptakan akan menjadikan Jazz Goes to Campus sebagai perpaduan yang harmonis. Namun, keharmonisan ini tidak akan terwujud tanpa adanya sense of belonging dari keseluruhan komponen yang terkait dengan Jazz Goes to Campus. Keselarasan yang terjadi akan menciptakan Jazz Goes to Campus yang memberikan nilai optimal kepada para stakeholders.

Jazz The Way It Is” menggambarkan Jazz secara utuh. Ini berarti, kami akan menampilkan berbagai sub-genre dalam Jazz dan menunjukkan bahwa Jazz memiliki sisi keragaman. Selain itu, “Jazz The Way It Is” juga merepresentasikan Jazz Goes To Campus sendiri. Para mahasiswa penyelenggara JGTC ingin memberikan segenap kemampuan yang dimiliki dan mengerahkan pemikirannya untuk menciptakan konsep bagi Jazz Goes To Campus. Kami ingin menciptakan Jazz Goes To Campus dengan sepenuh hati serta pikiran, dimana pada akhirnya Jazz Goes To Campus dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan untuk masyarakat secara luas.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, The 34th Jazz Goes To Campus juga memiliki beberapa rangkaian acara yang akan mengawali festivalnya. Rangkaian acara The 34th Jazz Goes To Campus akan dimulai dengan JGTC Opening & Press Conference yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2011 di Kampus FEUI Depok dengan tujuan mengentalkan nuansa "kampus & mahasiswa" sesuai dengan nama acara kami Jazz Goes To Campus. Acara tersebut merupakan pembukaan secara simbolik untuk menandakan bahwa rangkaian acara dari The 34th Jazz Goes To Campus telah dimulai. Setelah itu, rangkaian acara yang mengiringi adalah JGTC Roadshow. Pada tahun ini, JGTC Roadshow akan menyambangi dua kota tetangga dan bekerja sama dengan teman-teman mahasiswa dari universitas setempat. Kota pertama adalah Bandung, yang dimana panitia JGTC akan bekerja sama dengan BEM SBM ITB untuk menjalankan mini show pada tanggal 15 November 2011. Selain bergandengan dengan pihak SBM ITB, JGTC Roadshow Bandung juga mengajak KlabJazz bandung, ITB Jazz, serta Hollywood Nobody untuk ikut meramaikan danberpartisipasi. Di tahun ini JGTC sengaja melebarkan sayap ke Pulau Sumatra untuk pertama kalinya, yakni dengan mendatangi Kota Lampung dimana JGTC akan bekerjasama dengan BEM UNILA dan Komunitas Jazz Lampung. JGTC juga akan mengundang beberapa band dari UNILA dan Idang Rasyidi Syndicate untuk memeriahkan acara.

Rangkaian acara lainnya dari The 34th Jazz Goes To Campus yang telah cukup populer dan cukup banyak melahirkan musisi-musisi jazz baru adalah JGTC Competition yang tergabung ke dalam JGTC Exhibition bersama dengan JGTC Children Workshop. Dari tahun ke tahun, JGTC Competition telah berhasil menelurkan juara-juaranya yang telah diseleksi kualitasnya oleh para juri yang terdiri dari insan-insan jazz kawakan seperti yang ada pada tahun ini, yaitu Benny Likumahua, Denny Sakrie, dan Sandy Winarta. JGTC Competition sendiri terdiri dari dua tahap, yaitu Qualification Round yang akan diadakan tanggal 12-13 November 2011 yang akan diadakan di Blitz Megaplex-Grand Indonesia. Final Round pada tanggal 26 November 2011 di Fountain Area-Grand Indonesia. Selain penampilan dari peserta JGTC Competition, JGTC turut dimeriahkan oleh penampilan dari Aditya Sofyan, Andre Harihandoyo and Sonic People, Soul of Magnolia, Bard Shuffle, Dimas Wibisono and His Mates, 414, 7th sway, dan fifteen plus.  Segi edukatif dari JGTC pun ditunjukkan dengan diberikannya free jazz clinic bagi para partisipan JGTC Competition yang akan diisi oleh musisi-musisi jazz ternama, seperti Oele PattiselanoDonny Joesran, Kristian Dharma, dan Dimas Pradipta.

Masih merupakan bagian dari JGTC Exhibition, pada tahun ini akan diadakan kembali JGTC Children Workshop yang digagas dengan tujuan menularkan serta mengenalkan music jazz kepada anak-anak khusunya kepada mereka yang sangat kecil kesempatannya untuk mempelajari musik jazz karena faktor tertentu terutama terkait faktor finansial. JGTC pun memilih untuk mengajak anak-anak dari sebuah Komunitas yang bernama Masjid Terminal. JGTC Children Workshop tahun ini pun dikemas sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dimana peserta akanmenggunakan perkusi dari barang-barang bekas yang sedemikian rupa akan “diracik” oleh musisi jazz senior sekaligus berperan sebagai tutor yaitu Idang Rasyidi agar nantinya musik perkusi tersebut bisa mengiringi musik jazz. Video dokumentasi para anak-anak yang telah mengikuti workshop ini nantinya akan ditampilkan pula pada festival The 34th  Jazz Goes To Campus.

Perkembangan musik jazz di Indonesia tak akan sesukses sekarang ini tanpa dukungan dari berbagai pihak. Dukungan dari banyak insan jazz Indonesia tersebut juga dirasakan oleh Jazz Goes To Campus selama ini, oleh karena itu pada tahun 2007 diadakanlah JGTC Awards untuk pertama kalinya dalam rangka memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi para insan jazz tanah air yang telah berkontribusi dalam perkembangan JGTC pada khususnya dan perkembangan jazz di Indonesia pada umumnya. Pada tahun ini pun, untuk ke-lima kalinya, JGTC Awards akan kembali memberikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya bagi para insan jazz yang terpilih ke dalam beberapa kategori, diantaranya Most Dedicated, Raising Stars, Most Prominent, dan Lifetime Achievement. Proses penilaian dalam JGTC Awards pun tak perlu diragukan lagi karena komite jurinya digawangi oleh tokoh-tokoh jazz terkemuka, seperti Benny Hoed, Chico Hendarto, Dahono Fitrianto, dan Dion Momongan. Dan, penganugerahan JGTC Awards pada tahun ini akan diberikan live on stage pada saat The 34th Jazz Goes To Campus festival.

Perjalanan panjang dari rangkaian acara The 34th Jazz Goes To Campus pun akan diakhiri dengan manis pada tanggal 4 Desember 2011. Pada hari Minggu tersebut, sekali lagi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Kampus Baru UI Depok akan merasakan megah dan gempitanya The 34th  Jazz Goes To Campus Festival. Menampilkan musisi-musisi jazz dari dalam dan luar negeri seperti:

Nouvelle Vague (Paris)

(download)

LLW feat Dira Sugandi, Glenn Fredly,  Idang Rasyidi Syndicate, Jazz The Way It Is Project (Benny Likumahua, Rien Djamain, Oele Patisselano, Barry Likumahua, Sam Panuwon, Indra Azis, dan Dimas Pradipta ), Parkdrive, Barry Likumahua Project, Gugun and The Blues Shelter, Andre Harihandoyo and the Sonic People, Kuno-Kini feat. Miranti (Violinist from fifteen plus), White Shoes and The Couples Company feat. Oele Pattiselano, Audiensi Band (Trie Utami, Mus Mudjiono, Didiek SSS), Sketsa, FEUI Jazz Reunion, Xtra Large, Sierra, Voyage, Tribute to Level42, Projecthree, Caniday, Klab Jazz Bandung, BSO Band FEUI, dan JGTC Competition Winners.

(download)
Festival_poster_edit

Nuansa jazz yang unik akan kental terasa. Hal tersebut akan didukung dengan konsep festival baru yang diusung oleh The 34th Jazz Goes To Campus, yaitu tiga show area dengan waktu penampilan yang tidak sepenuhnya simultan, yang memungkinkan para pengunjung untuk menikmati seluruh nuansa serta ambience musik jazz yang berbeda-beda dari ke-tiga show area tersebut. Tidak hanya tiga show area, The 34th Jazz Goes To Campus Festival juga akan berisi bazaar-bazaar yang menarik, video art yang apik, serta dekorasi yang artistik untuk menambah semarak aura festivalnya.

Akhir kata, semoga perjalanan panjang Jazz Goes To Campus selama ini dapat memberikan kontribusi berarti atas perkembangan dunia jazz di Indonesia, dan yang jelas tidak akan berhenti sampai di sini. Semoga nama harum Jazz Goes To Campus tetap ada sampai kapan pun demi kekalnya dunia jazz Indonesia. Long live Jazz Goes To Campus!

11 Aug 2011

Casa Kemang

Nggak tau kenapa pengen banget cerita pengalaman makan disini waktu Buka Puasa bareng sama Publikasi JGTC kemarin.

Casa ini terletak persis diatasnya Aksara Bookstore Kemang. Tempatnya sendiri satu lokasi dengan area Kemang Duty Free yang ada di seberang Grand Flora Hotel, Kemang. So much for directions, huh? Oke lanjut... Dulu gue pernah makan disini sekali sama temen dan tidak meninggalkan kesan yang terlalu istimewa. Tapi kali ini boleh lah dijadikan bahan tulisan hehehe.

Casa besarnya cuma setengah dari besar Aksara (gue merasanya seperti itu sih) tapi walaupun kecil suasananya dibuat se-homy mungkin. Mungkin manajemennya ingin merepresentasikan kata "Casa" yang merupakan kata dari bahasa Spanyol yang artinya "Rumah".

Waktu itu bareng anak-anak Publi JGTC kita udah reserved tempat dan diberi tempat satu meja panjang dari kayu di tengah-tengah Casa. Sampai disana karena gue telat akibat macet Jakarta yang amat membunuh, gue melihat di depan teman gue sudah disajikan complimentary plater untuk berbuka puasa. Isinya: es buah, puding roti, dan kurma. Walaupun sebenernya lagi berhalangan puasa tapi tetep gak enak kalo makan duluan (iyalaaaah) akhirnya tetep tunggu adzan Maghrib lewat. Setelah disamperin sama salah satu waiter yang menyampaikan kalo sudah waktu berbuka gue langsung mencicipi es buahnya (maaf banget gak ada fotonya jadi gue visualisasikan lewat kata-kata saja ya T.T). Es buahnya kuahnya agak kental yang gue tebak pada awalnya itu yoghurt karena gue sempat mencium aroma plain yoghurt dr dalam gelas tersebut. Tapi ternyata setelah dicicipi itu susu cair biasa diberi syrup cocopandan yang sayangnya tidak terasa manis-manisnya sama sekali. Karena gue tidak suka dengan makanan atau minuman hambar, akhirnya gue singkirkan gelas berisi es buah tersebut dan mencoba puding roti. Porsi dari si puding roti ini amat mini. Dengan kata amat disini berarti benar-benar sangat kecil (ya maklum namanya juga complimentary). Bentuknya sebenernya kurang menggugah selera tapi begitu dimakan, GILA INI ENAK! Enak banget! Sayang cuma dapet se-bujur sangkar yang habis sekali sendok. Puding roti nya agak lembek dan bahkan mengeluarkan air tapi gue rasa ini karena puding rotinya didinginkan karena memang ketika dicicip pudingnya dingin seperti habis dikeluarkan dari pendingin.

Setelah mencicipi ta'jil berbuka datanglah satu persatu pesanan saya. Gue datang paling akhir dan pesanan gue menyusul ketimbang yang lain but surprisingly pesanan gue justru muncul paling awal hahahaha. Terkejut banget tapi keterkejutan itu terbayar ketika selanjutnya pesanan teman yang lain saling susul-susulan datang. Pada saat itu gue cukup terkesima dengan service-nya yang super cepat.

Keterkejutan tidak hanya sampai disitu. Gue dan seorang teman sedikit bertanya-tanya, daritadi orang yang melayani kami sepertinya beda sendiri. Beda sendiri adalah karena ia tidak menggunakan seragam layaknya waiter lainnya tapi menggunakan kemeja necis. Akhirnya kami berdua membuat kesimpulan asal, orang ini either dia manager atau malah owner-nya Casa. Semua piring dan gelas dia bawakan sendiri utk diletakkan dihadapan kami dengan dibantu seorang waitress. Selanjutnya kami berkesimpulan lain lagi, mungkin disini memang seperti itu cara mereka melayani, tapi tengok kiri-kanan kami semua meja tidak ada yang dilayani orang berkemeja tersebut. Pada akhirnya kami tersipu malu sendiri merasa tamu penting hahahaha (kalimat ini sungguh gak penting).

Pesanan gue itu adalaaah Pesto Spaghetti (45k++) dan Small Ice Chocolate (25k++). Kesan pertama terhadap Pesto Spaghetti: hmmm porsi-nya gak pelit. Begitu juga terhadap Ice Chocolate nya, untuk ukuran yang katanya small ini pun gak terlalu kecil dan rasanya kayak minum biasa aja tanpa ada label small medium atau large. Mencicipi seteguk harus dibilang Ice Chocolatenya cukup enak. Nggak terlalu manis dan nggak terlalu pahit. Bisa dibilang gue nagih sih minum ini hehe. Setelah membasahi kerongkongan akhirnya langsung gak sabar mengubek-ubek si Pesto Spaghetti. Menurut gue sih terlalu berminyak, karena begitu Spaghetti nya nyaris habis dan terungkaplah bahwa minyak-nya banyak terkumpul di bawah. Umm dan Pesto-nya agak bikin gue kurang puas. Entah apa kurang bisa gue katakan mengapa.

Terus lanjut icip-icip punya teman, temen gue ada yang pesen Aglio Olio (45k++)-nya dan dahsyat banget pedesnya. Dia pun gak sanggup nerusin makan setelah beberapa suap. Gue yang tidak kuat makanan terlalu pedas pun angkat tangan pada setengah suapan pertama.

Lanjut cicip-mencicip part 2, seorang teman memesan sesuatu yang gue lupa namanya tapi bentuknya ituuuu seperti chicken cordon bleu yang isinya bukan smoked beef dan cheese tapi mushroom, disajikan dengan mushroom sauce dan mashed potato. Dari semua cicip-mencicip punya temen asli ini menu yang paling enak dan porsinya luar biasa mengenyangkan.

Setelah sepertinya semua piring diatas meja bersih, om kemeja necis nyamperin geng kami dan bertanya seputar masakannya enak atau tidak, puas atau tidak. So far semua bilang oke-oke aja, cuma temen gue yang pesen Aglio Olio kepedesan bilang "umm aglio olio ku kepedesan nih hehe, padahal tadi pesennya jangan terlalu pedes". Si om kemeja necis dengan respond yang cepat "Oh mau diganti gak Spaghetti-nya?" Kontan temen gue gak enakan dan menolak niat baik si om kemeja necis.

Nggak lama setelah itu selang 15 menit, datang pesanan, sebuah Baked Hot Chocolate Cake (40k++) with Vanilla ice cream. Semua bingung karena rasa-rasanya belum ada yang pesan sesuatu sebagai makanan penutup. Akhirnya waiter tadi balik ke dapur. Eh tiba-tiba om kemeja necis menghampiri meja kami dengan Baked Chocolate Cake tadi dan bilang "ini complimentary dari kami sbg permintaan maaf buat yang Aglio Olio-nya kepedesan"

Semua terbengong-bengong, padahal temen kita tidak sama sekali protes, dia ngomong cuma karena ditanya kan hahaha. Tapi rasa-rasanya ini jadi berkah ramadhan buat kami semua karena Baked Hot Chocolate Cake nya dewa enak abis. Kalo boleh bikin kesimpulan tanpa bukti sih, kayaknya sesuatu yang berhubungan dengan dessert dan minuman, Casa boleh diacungi jempol deh.

Cuma cerita ini harus diakhiri sesuatu yang membuat penilaian gue akan service Casa sedikit menurun 0,3 poin. Bukan masalah besar sih tapi cukuplah ini dijadikan perhatian. Saat kita minta bill untuk semua pesanan kita, ternyata minuman berukuran medium harganya berbeda dari yang ada di menu. Di menu, semua minuman hanya memiliki satu harga yang ternyata itu harga utk minuman ukuran small. Sementara saat kita memesan, waiter pasti nanya mau yang small atau medium tanpa menerangkan kalau harganya berbeda dari yang tercantum di menu. Nah kesalahpahaman akibat kurang penjelasan ini kan bikin berabe dikit. Walaupun gue tidak mengalami tapi temen-temen gue yang kena agak manyun sih walaupun nominalnya gak gede abis, gak kok...

Taste ***1/2  Service ****  Ambience ****  Price ***  Overall ***1/2

25 Jul 2011

The Annoying Little Things I Hate Most

1. Orang ngaret

2. Cicak

3. Balon

4. Katak

5. Kadal

6. Nilai C

7. Kasur lembab

8. Tidur tanpa guling

9. Gagal download sesuatu

10. Penggunaan retweet yang tidak pada tempatnya

11. Lupa mau bicara apa

12. Laptop hang disaat-saat genting

13. Becek

14. Serangga gunung (gue bahkan tidak yakin secara spesifik serangga dibagi menjadi kategori 'gunung' atau 'pantai')

15. Writer's block

16. Menyetir dengan kendaraan sangat besar (bus, truk, tronton, dsb) berada di samping kiri kanan dan belakang

17. Macet dan tidak ada orang lain di dalam mobil

18. Barista starbucks salah membuat soy green tea cream sehingga rasanya .................

19. Beli sesuatu yang mahal tapi tidak pernah dioperasikan atau digunakan karena memang tidak bisa dioperasikan dengan alat pendukung yang sudah ada (ngerti nggak maksudnya?)

20. Ketakutan saat sesuatu yang aneh terjadi pada alat-alat elektronik milik gue (bukan orang lain) (yang aneh bukan berarti dia berubah seperti yang terjadi dalam film Transformers, bukan)

21. Belajar kelompok (Buat gue belajar yang efektif terdiri dari 1-2 orang kecuali dalam proses lecturing)

22. Pembagian tugas dan gue mendapatkan tugas yang paling ringan dari semuanya (Gue suka tantangan dan gue suka mengeksplorasi diri lebih dalam. Ketika lo sukses mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih sulit dibandingkan yang dikerjakan oleh orang lain, perasaan bangga akan jauh lebih besar dan lo akan lebih 'kaya' dari orang lain, IMO)

23. Kalau sedang tidak bisa mengeluarkan pendapat disaat ia dibutuhkan (Seperti saat ini, rasanya The Annoying Little Things I Hate Most akan berlanjut)

21 Jul 2011

Mari Merangkum

Belakangan ini ada berbagai kejadian yang sadar atau tidak sadar cukup menyita pikiran saya. Bukan berarti untuk dipikirkan terus menerus dan berujung ke stress berkelanjutan. Tapi mereka mampir di otak saya dan menggelitiknya untuk sekedar mengomentari atau menertawai.

1. Kritik

Setiap orang memiliki pandangan berbeda terhadap kritik. Alhamdulillah saya merasa orang yang sangat terbuka dengan kritik, apalagi kritik yang menyisipkan saran untuk perbaikan di masa yang akan datang. Hanya satu kritik yang entah kenapa sampai sekarang belum bisa saya terima. Kritik yang diberi sisipan 'perbandingan antara saya dengan orang X'. Baru-baru ini saya menerima suatu kritik dengan kata-kata halus dan berisi masukan yang sangat baik, sayangnya di tengah itu semua...

"Coba lihat, X dia mampu blablabla. Atau lihat Y, dia sebagai lalala bisa blablabla. Kamu juga pasti bisa"

Yeah, terimakasih . Tapi saya bukan X dan saya bukan Y. Kecewa betul mendengarnya. Se-kritis itukah keadaan saya sehingga saya diberi saran untuk berkaca pada orang lain? Seharusnya dia tahu saya bukanlah bayangan pada cermin yang tidak kuasa untuk mengikuti tabiat orang lain di depan saya. Jika Anda mau saya agar melihat hal-hal baik yang bisa dilakukan X dan Y, jauh lebih baik dari yang saya lakukan, then andalkanlah X dan Y :)

 

2. Sindiran

Saya mau menyindir orang yang suka menyindir. Ingin sekali memuaskan keingintahuan saya akan 'Apakah mereka yang suka menyindir suatu saat tahu apabila dirinya sedang disindir oleh orang lain?'

Ia menyindir segala hal yang berhubungan dengan apa yang dilakukan orang kebanyakan, memuja sesuatu yang anomali. Ia menyindir segala manusia yang terlihat membosankan, memuja manusia yang tampil berbeda. Ia menyindir segala manusia yang berusaha keras agar tampil berbeda, memuja manusia yang membenci hal tersebut. Ia menyindir segala manusia yang mengikuti jejaknya, namun anehnya ia memuja dirinya sendiri sebagai seorang trendsetter, dimana tidaklah ia menjadi trendsetter apabila tidak ada yang mengikuti jejaknya. Ia menyindir segala account yang menghiasi timeline Twitternya, namun anehnya memuja dirinya yang cerdas, dimana tidaklah ia mengeluh seputar isi timelinenya apabila bukan ia sendiri yang menentukan ada atau tidak adanya mereka di timeline miliknya :)

18 Jul 2011

LOL

yang tidak pernah gagal membuat saya tertawa dari dulu:

http://www.youtube.com/show/theannoyingorange

16 Jul 2011

Perdebatan Nyata, SAP Berbasis Akrual vs SAP Berbasis Kas Menuju Akrual

Satu lagi editorial tentang Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual yang dibuat setelah diadakannya Accounting Grand Discussion bertemakan "Socialization and Comprehending the Impact and Implementation of Peraturan Pemerintah 71 2010 for Government Agencies" yang dibawakan oleh Kasubdit Kementrian Keuangan, Pemda Kota Depok, dan Kementrian Dalam Negeri bulan April 2011 lalu. Sekian 3 serial posting-an berisi tulisan 'ekonomi' saya hehehe.

 

 

Perdebatan Nyata, SAP Berbasis Akrual vs SAP Berbasis Kas Menuju Akrual

Marissa Putri

 

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Keuangan Negara, Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintahan tersebut menggunakan basis kas untuk pengakuan transaksi pendapatan, belanja dan pembiayaan, dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana.

 

Namun, penerapan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 masih bersifat sementara sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 36 ayat (1) Undang - Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual menurut Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dilaksanakan paling lambat lima tahun. Oleh karena itu, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 perlu diganti.

 

Diterbitkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya akan disebut PP 71 2010, berbuah keputusan penghapusan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual dan penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Berbasis Akrual secara penuh mulai tahun 2015.

 

Sebagaimana disebutkan dalam PP 71 2010 Pasal 1 ayat (8) bahwa yang dimaksud dengan SAP Berbasis Akrual adalah SAP yang mengakui pendapatan, beban, aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual, serta mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan anggaran berdasarkan basis yang ditetapkan dalam APBN atau APBD.

 

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diberlakukan semenjak 1 Januari 2001 telah mengakibatkan terjadinya perubahan yang sangat besar dalam sistem pemerintahan di Indonesia yakni munculnya otonomi daerah. Pemerintah Daerah diberikan wewenang dan peran yang cukup besar untuk ‘mengurus dirinya’ sendiri. Dalam hal keuangan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah yang menetapkan berbagai aturan tentang “pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Daerah”. Peraturan Pemerintah ini secara rinci memuat berbagai ketentuan penggunaan Keuangan Daerah yang diperoleh dari berbagai sumber penerimaan, mulai dari perencanaan sampai pertanggungjawaban dan pengawasan. Dari paparan tersebut jelas bahwa sistem pengawasan dan pertanggungjawaban sangat dititikberatkan, dalam hal ini sistem akuntansi yang kredibel dan akuntabel.

 

Laporan keuangan yang dihasilkan dari penerapan SAP Berbasis Akrual dimaksudkan untuk memberi manfaat lebih baik bagi para pemangku kepentingan, baik para pengguna maupun pemeriksa laporan keuangan pemerintah, dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip akuntansi yaitu bahwa biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang diperoleh.

 

Tak hanya itu, peningkatan kualitas informasi pelaporan keuangan pemerintah baik pusat dan daerah akan menjadi semakin baik lewat pelaporan keuangan yang dihasilkan basis akrual. Sedangkan pengukuran kinerja dapat dilihat dengan lebih objektif serta mampu memfasilitasi manajemen keuangan atau aset dengan lebih transparan dan akuntabel sehingga kepercayaan publik akan meningkat.

 

SAP Berbasis Akrual secara umum memiliki 3 perbedaan mendasar bila dibandingkan dengan pendahulunya, SAP Berbasis Kas Menuju Akrual. Perbedaan tersebut terletak pada tersajinya Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas.

 

Laporan Perubahan SAL menyajikan informasi perihal kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Semakin sedikit Saldo Anggaran Lebih suatu tahun dibandingkan tahun sebelumnya, memperlihatkan adanya indikasi pemanfaatan anggaran yang lebih baik. Lagi, ini menunjukkan bahwa informasi yang didapatkan pemangku kepentingan akan semakin luas.

 

Laporan Operasional pada dasarnya merupakan laporan keuangan pokok yang menyajikan pos-pos pendapatan dibagi berdasarkan jenis kegiatannya apakah operasional atau non-operasional. Tidak dipungkiri Laporan Operasional menyediakan info lebih mendetail bila dibandingkan dengan Laporan Kinerja Keuangan yang serupa.

 

Sedangkan Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Melalui laporan ini akan diperoleh informasi besaran anggaran yang telah dialokasikan untuk dana lancar, dana cadangan, ataupun yang diinvestasikan pada aktiva tetap.

 

Lewat ‘terobosan’ baru yang ditawarkan, Pemerintah Daerah sebagai agen pemerintah yang mandiri diharapkan mampu menyelesaikan berbagai masalah yang kerap menghantui seperti misalnya realisasi pemerintah daerah yang seringkali melebihi ataupun lebih rendah dari hak daerah yang bersangkutan, atau sebut saja adanya kewajiban kepada pihak ketiga yang belum dibayar pada akhir tahun akibat tidak sesuainya realisasi pendapatan dari yang direncanakan sehingga daerah yang bersangkutan harus menghadapi defisit dana untuk membiayai belanjanya.

 

Perubahan menuju arah yang lebih baik ini bukan berarti hadir tanpa masalah. Pertanyaan dan pro-kontra soal siap atau tidak siapkah Indonesia mengimplementasikan SAP Berbasis Akrual ini terus timbul di segala kalangan. Hal yang paling baku muncul di benak masyarakat terlebih pada soal sumber daya manusia. Penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual yang telah dilaksanakan sampai dengan saat ini saja belum sepenuhnya dipahami dengan baik oleh sebagian pengelola keuangan di daerah. Lalu, ketika Pemerintah Daerah ‘dijejali’ oleh sesuatu yang merupakan modifikasi sistem yang lebih baik, mampukah? Apakah SDM pengelola keuangan di instansi-instansi dalam negeri kita terbilang sudah memiliki kemampuan yang mumpuni?

 

Selanjutnya seperti yang sudah-sudah terjadi, perubahan sistem diikuti pula dengan pembengkakan pada anggaran belanja daerah. Pemerintah Daerah sendiri mengharapkan bahwa penerapan SAP Berbasis Akrual ini nantinya tidak menjadi senjata makan tuan yang justru mengancam stabilitas keuangan daerah.

 

Dalam PP 71 2010 sendiri disebutkan dalam sebuah poin khusus bahwa apabila sebuah entitas belum siap melaksanakan SAP Berbasis Akrual saat ini, mereka masih diperkenankan menggunakan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual selama masa transisi empat tahun. Diharapkan waktu yang cukup panjang ini dapat dimanfaatkan untuk meramu solusi agar masalah-masalah yang sekiranya menghambat mampu diselesaikan dengan segera dan memantapkan langkah agar sistem baru yang cukup baik ini dapat dimanfaatkan dengan efisien.

 

16 Jul 2011

Implementasi Good Corporate Governance di Indonesia, Persoalan Dilematiskah?

Lagi, ini adalah tulisan saya untuk tugas editorial buah hasil Group Discussion Accounting Study Division SPA FEUI dengan tema "Good Corporate Governance" yang dibawakan oleh Ignasius Ryan H pada bulan April lalu (wew sudah lama juga ya).

 

Implementasi Good Corporate Governance di Indonesia, Persoalan Dilematiskah?

Marissa Putri

 

Sulit dipungkiri bila dekade belakangan ini istilah Good Corporate Governance (GCG) kian bersahabat di telinga kita. GCG telah ditempatkan sebagai juru kunci dari rahasia kesuksesan perusahaan untuk terus tumbuh dan semakin mampu bersaing di era global, dimana arus informasi dan uang berjalan dengan sangat cepat, yang tak lagi hanya ditandai oleh kompetisi regional atau antar negara melainkan persaingan antar perusahaan.

 

Sejarah pernah menuliskan peristiwa suram di negeri ini betapa perekonomian Indonesia pernah terseok-seok hingga titik nadir pada tahun 1998. Runtuhnya perekonomian Indonesia disebabkan oleh buruknya Corporate Governance. Banyak opini yang mengatakan negara ini berada dalam asuhan pihak-pihak yang salah. Booz-Allen & Hamilton, sebuah consulting firm yang berasal dari Amerika Serikat, pernah mempublikasikan studinya bahwa pada tahun 1998, tepat saat krisis perekonomian terjadi di Indonesia, indeks Good Corporate Governance (nilai 0 menunjukan nilai terendah dan 10 nilai tertinggi) Indonesia berada pada peringkat terbawah dan dinilai sangat buruk diantara negara-negara Asia Tenggara dan Timur, yakni berada di angka 2.88 kalah jauh dengan Malaysia 7.72 dan Singapura 8.93. Sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan yang retoris bahwa rendahnya aplikasi Good Corporate Governance di Indonesia pada saat itu menjadi pemicu terjadinya krisis.

 

Corporate Governance adalah struktur dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya (Pertamina Code of Corporate Governance; 1). Sedangkan kata ‘Good’ sendiri menekankan pada asumsi bahwa perusahaan melakukan kelola Corporate Governance dengan baik. Konsep GCG memfokuskan pada dua hal yakni, pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi yang benar dan tepat pada waktunya dan kedua, menekankan bahwa perusahaan memiliki kewajiban untuk transparan terhadap semua yang berhubungan dengan informasi kinerja perusahaan dan kepemilikan kepada seluruh stakeholders. Lewat definisi dan fokus dari GCG dapat dirangkum bahwa transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan keadilan adalah lima prinsip paling fundamental dari penerapan Corporate Governance yang baik.

 

Kepercayaan investor sangat tergantung dari transparansi kinerja perusahaan secara akurat dan tepat waktu, informasi-informasi yang berkaitan haruslah jelas, konsisten, dan menggunakan standar akuntansi yang dapat diterima global. Lewat transparansi, stakeholder dapat memperhitungkan resiko dari bertransaksi dan berinvestasi dalam perusahaan tersebut.

 

Sebagai lembaga yang hanya memiliki satu tujuan, yakni profit, pada dasarnya sebuah perusahaan berjalan atas dasar banyak kepentingan di dalamnya. Salah satu kepentingan pokok dipegang oleh para pemegang saham. Hubungan pemegang saham dengan perusahaan seharusnya digambarkan sebagai mutualisme, keduanya saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain. Pemegang saham menginginkan perusahaan meningkatkan profit motive-nya agar mereka dapat meraup keuntungan sebesar-besarnya. Sedangkan kepentingan tersebut kadang tidak sejalan dengan stakeholder lain seperti karyawan, supplier, atau bahkan konsumen. Agency problem antara direksi dan pemegang saham pun tak terelakkan terjadi. Akuntabilitas mampu menjadi solusi dari problem ini misalnya lewat pengawasan akan kewenangan antara pemegang saham, direksi, dan komisaris. Dalam kasus ini GCG berperan secara utuh untuk menyeimbangkan sekian jenis kepentingan untuk tetap dapat mempertahankan eksistensi perusahaan dalam bisnis.

 

Agency problem ini erat hubungannya dengan sistem yang dianut di dalam masing- masing entitas bisnis. Dalam perekonomian dikenal dua buah sistem yakni One-tier system dan Two-tier system. Dari namanya saja sebetulnya sudah dapat merepresentasikan arti dari kedua sistem. Mudahnya, One-tier dalam sebuah entitas hanya memiliki satu pemimpin sehingga berarti hanya ada satu lapis komando. Sedangkan Two-tier berarti di atas pemimpin masih ada badan atau pihak lainnya yang menjadi pengawas.

 

Pada sistem One-tier, pemimpin entitas berdiri sendiri tanpa ada sistem pengawasan yang formal dan khusus dibentuk untuk menjalankan fungsinya. Sistem ini biasanya berjalan di beberapa negara Eropa Barat dan Amerika Serikat yang secara budaya memang menanamkan akar kepercayaan yang tinggi sehingga sistem pengawasan tak lagi dianggap hal yang esensial.

 

Sebaliknya, sistem Two-tier yang biasa ditemui di Indonesia ini jelas memiliki garis khayal yang membagi fungsi antara Komisaris dan Direksi atas wewenangnya dalam entitas sebagaimana tegas diatur dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 Tentang Perseroan Terbatas. Namun dalam praktiknya di Indonesia, Dewan Komisaris terkadang hanya dijadikan tameng pemenuhan protokol saja karena kerja Komisaris bergantung sekali terhadap pertanggungjawaban kertas, yang rentan praktik kecurangan, disampaikan dalam rapat bukan menilai performa kerja berdasarkan hasil nyata.

 

Lalu demi tercapainya Indonesia yang lebih baik sistem mana yang sebaiknya dianut? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini karena keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Hanya saja melihat kondisi budaya Indonesia dimana KKN seringkali menjadi isu utama, One-tier system dianggap kurang mampu merepresentasikan keadaan Indonesia sebenarnya karena sekali lagi fungsi pengawasan, betapa pun kurang optimalnya mereka, di negeri ini masih sangat dibutuhkan. Negara ini belum siap untuk mandiri dan jujur tanpa pengawasan seperti layaknya siswa-siswi Indonesia yang belum siap untuk jujur tanpa pengawasan saat Ujian Nasional.

16 Jul 2011

Value Investing, Bukan Sekedar Nyali dan Prediksi

Berikut adalah tulisan saya tentang Value Investing. Tulisan ini adalah 'tugas' editorial bagi seluruh associates Accounting Study Division SPA FEUI. Tulisan ini juga merupakan hasil pembuahan pikiran dari Group Discussion Accounting Study Division dengan tema "Value Investing" yang dibawakan oleh Bangun Imanullah pada Selasa 12 Juli 2011 lalu. Senangnya tulisan ini juga kemudian diterbitkan sebagai salah satu artikel utama dalam Accounting Bulletin edisi 1 tahun 2011 yang terbit bulan September lalu :)

 

Value Investing, Bukan Sekedar Nyali dan Prediksi

 Oleh: Marissa Putri

 

Pernahkah kita, mahasiswa, berpikir untuk menjadi seorang investor sejak dini? Jika iya, maka benar-benar pikirkanlah dengan baik setelah Anda membaca artikel ini. Ada banyak strategi untuk membuat keputusan dalam melakukan investasi yang dikenal di masyarakat diantaranya adalah technical investing dan fundamental investing. Jika technical investing tidak sama sekali memperdulikan ‘nilai’ dari sebuah perusahaan melainkan hanya memfokuskan pada pergerakan harga saham di pasar, maka fundamental investing menganggap bahwa nilai tersebut adalah hal yang essential. Salah satu jenis fundamental investing, value investing, bahkan telah berhasil mencetak orang terkaya nomor tiga di dunia, Warren Buffet. Suka atau tidak suka, Buffet, yang juga mempelajari value investing dari Benjamin Graham, telah dimahkotai predikat sebagai investor paling sukses yang pernah ada. Dalam filosofinya, tidak akan pernah ada pengaruhnya fluktuasi permintaan dan penawaran dalam pasar saham, “In the short term the market is a popularity contest, in the long term it is a weighing machine”.

 

Secara harfiah value investing diartikan sebagai strategi investasi dengan cara memilih saham yang diperdagangkan pada harga lebih murah dibandingkan nilai sebenarnya (nilai intrinsik) yang diyakini oleh investor. Value investors menganggap bahwa pasar terkadang terlalu berlebihan menanggapi berita-berita yang ada di sekitar mereka sehingga mempengaruhi keputusan untuk membeli atau menjual saham dan berujung pada fluktuasi harga jangka pendek. Celah inilah yang justru mereka manfaatkan untuk membeli saham pada harga rendah. Volatilitas pasar dan faktor-faktor eksternal diabaikan karena dianggap tidak akan memiliki pengaruh terhadap performa perusahaan dalam jangka panjang.

 

Sebagai kaum yang berkutat dengan berbagai scientific approach, value investors adalah kalangan yang sangat pemilih. Ada banyak kriteria yang mereka gunakan untuk mendukung pengambilan keputusan, diantaranya Price-Earnings Ratio (PER), Price-Book Value Ratio (PBV), Debt-Equity Ratio, porsi current assets dengan current liabilitiesdan dividend yield. Namun dari sederet kriteria, ada tiga yang paling sering mendapat perhatian khusus yakni PER, PBV, dan dividend yield. Semakin kecil nilai PER sebuah saham semakin besar pula keuntungan yang didapatkan oleh investor ditambah dengan efek keuntungan ganda dari terjadinya capital apreciation ketika harga saham terkoreksi menuju nilai wajarnya. Lain lagi dengan PBV, semakin besar nilainya akan dianggap semakin baik. Disamping itu, PBV dapat dijadikan alat untuk mengetahui apakah saham yang diedarkan sebuah perusahaan adalah saham yang undervalued atau bukan lewat penghitungan rasio antara PBV dengan Return on Equity (ROE). Nilai kecil yang dihasilkan dari rasio PBV dengan ROE ini mengindikasikan bahwa harga saham dinilai terlalu rendah dari nilai intrinsiknya padahal ROE perusahaan cukup tinggi. Sedangkan untuk dividend yield sudah jelas bahwa setiap investor memperhitungkan saham mana yang memberikan cash flow terbesar dari tiap investasi yang mereka lakukan.

 

Pertanyaan pun timbul, apakah value investing dengan segala kehati-hatiannya juga memiliki kelemahan? Satu masalah yang paling menonjol adalah bagaimana menilai nilai intrinsik itu sendiri. Ingatlah bahwa tidak ada penilaian nilai intrinsik yang paling tepat. Dua investor dapat saja memiliki informasi yang sama namun ternyata memiliki persepsi dan pendapat berbeda perihal nilai intrinsik sebuah perusahaan. Untuk alasan ini dikenalkan pula konsep Margin of Safety (MoS). MoS merupakan ‘ruang’ dari berbagai kemungkinan kesalahan yang terjadi dalam estimasi investor antara nilai intrinsik dengan nilai undervalued sebuah saham. MoS menciptakan rasa aman dengan nilai yang setara dengan nilai discount sebuah saham. Keuntungan akan investor peroleh ketika harga terkoreksi kembali menuju nilai wajarnya yaitu sebesar MoS-nya.

 

Masih berkaitan dengan persepsi dan penilaian investor akan saham yang sangat subjektif, terkadang investor menemui masalah dalam hal menentukan mana saham yang undervalued atau saham yang memang bernilai rendah. Dalam value investing hal tersebut ibarat pekerjaan rumah yang harus dipecahkan oleh setiap investor. Misalnya, sebuah saham mengalami penurunan harga bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal tersebut tidak secara otomatis menandakan bahwa perusahaan tersebut menjual saham yang akan memberi keuntungan kepada investor karena harganya murah, tetapi bisa saja penurunan harga adalah respon perusahaan atas masalah-masalah yang sedang mereka hadapi. Sekali lagi value investing membandingkan harga sekarang dengan nilai intrinsik bukan harga atas dasar data tahun-tahun sebelumnya.

 

Value investors nampaknya masih jarang dijumpai di Indonesia. Dapat dikatakan secara nature, orang Indonesia masih lebih sering berspekulasi ketimbang melakukan investasi. Untuk menjadi value investor yang handal dibutuhkan kedisiplinan tinggi. Disiplin ini berkaitan dengan termakan atau tidaknya-kah investor dalam keserakahan dan keinginan meraup keuntungan sebesar-besarnya karena dalam dunia investasi ada banyak sekali hal yang mampu mempengaruhi seseorang untuk mengambil keputusan tanpa berpikir panjang dikarenakan tergiur peluang. Ditambah dengan corporate governance yang belum cukup teruji sehingga menimbulkan tembok penghambat bagi value investors di Indonesia.

 

Sekarang, siapkah Anda menyaingi kemampuan Warren Buffet?

 

16 Jul 2011

Pertama Kali

Pulau Tidung, Jumat 15 Juli 2011

10.00 Sampai lah saya dan teman-teman dari Publikasi the 34th Jazz Goes to Campus (selanjutnya disebut sebagai Publibabes :3) di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan, dalam rangka Tim Building dan mengakrabkan diri. Sesampainya di penginapan kami tergeletak dan bertebaran di lantai, kasur, dan karpet untuk merasakan udara AC yang sejuk setelah merasakan panasnya perjalanan laut, dermaga tidung, dan bersepeda di perkampungan.

11.00 Beberapa boss Publibabes seperti kak Alvi dan kak Icut tiba-tiba melakukan negosiasi dengan pihak travel seputar paket wisata di Pulau Tidung yang setelah di diskusikan bersama sangat-sangat kurang menarik dan termasuk costly kalau kita membayar seharga X dan cuma bisa mendapatkan hal-hal tersebut. Akhirnya lewat perdebatan yang cukup alot dan melibatkan scientific calculator (yang ternyata dibawa oleh seorang teman bahkan saat liburan, well anak ekonomi tidak pernah libur sepertinya) dapatlah kita satu paket snorkeling dan jalan-jalan pulau lain dengan menambah Rp 55.000 lagi per orang.

11.00 Sebetulnya dalam perdebatan alot itu ada juga usaha perayuan anak-anak yang tidak mau snorkeling demi mendapatkan Quantity Discount, semakin banyak semakin murah harga. Alhasil dari sekitar 5 anak yang tidak mau snorkeling menurun lah kuantitas tersebut menjadi 1, yakni saya. Alasan saya berjuta, mulai dari tidak bisa berenang sampai mata minus 4 dan tidak menggunakan soft lens. Pada awalnya saya bersedia cuma duduk-duduk di kapal kalau perlu jadi fotografer saja memfoto mereka-mereka yang turun ke laut. Tapi pada akhirnya semua Publibabes 'memaksa' dan mendorong saya untuk berani. Bahkan beberapa yang kalau sudah ketemu air laut langsung bermutasi menjadi lumba-lumba bersedia untuk ada disamping saya. Akhirnya saya mengiyakan.

13.00 Usai waktu sholat jumat kami digiring menuju dermaga. Actually, pada awalnya kami semua yang terdiri dari mahasiswa mandiri dan penuh inisiatif berjalan sendiri menuju dermaga kapal awal kami tiba di Pulau Tidung. Setelah menunggu beberapa lama tiba-tiba tour guide kami menelepon menanyakan keberadaan kami. Usut punya usut ternyata kami salah dermaga dan diminta kembali ke penginapan yang cukup, lumayan, dan agak jauh dari tempat kami berada. Di cuaca yang amat terik, sebagian dari kami (atau malah seluruhnya?) badannya sudah berkilauan karena keringat bercampur dengan sun block :s

13.15 Sampai di penginapan kami digiring menuju dermaga yang sesungguhnya. Yang membuat kami terkejut karena dermaganya cukup ditempuh dalam waktu 60 detik saja! Dermaga tersebut terletak sekitar 50 meter sebelah kiri penginapan kami -_-"

13.15 Terlihat perahu-perahu kayu, pasir putih, dan tentunya air laut berwarna biru tosca yang belum-belum sudah membuat kami buru-buru mencemplungkan kaki ke dalam air

14.45 Sampai di spot snorkeling pertama yang jauhnya minta ampun dan membuat kami nyaris mabuk laut lagi. Sepanjang perjalanan sejujurnya sesekali saya berdoa dalam hati semoga saya selamat dan masih bisa dikasih kesempatan untuk menceritakan ini semua di posterous.Setelah menggunakan perlengkapan satu persatu mulai menceburkan diri ke laut. Saya di pinggiran perahu ragu-ragu loncat. Bahkan saat akhirnya badan saya sudah ada di laut saya ketakutan setengah mati -_- begitu saya memberanikan diri untuk mengambang secara horizontal di laut tiba-tiba saya merasa jago berenang dan meluncur lah saya dengan kaki katak itu dan mengintip kehidupan di bawah permukaan air laut. Ujung-ujungnya saya ketagihan! Bahkan tidak mau buru-buru naik ke perahu untuk meluncur menuju spot ke dua.

Selanjutnya gak perlu lagi diceritakan betapa saya jadi menyukai kegiatan snorkeling ini. Ternyata benar kata kak icut sewaktu membujuk saya "berani jamin gue, orang yang nggak bisa berenang biasanya malah yang ketagihan snorkeling" Nggak kebayang kalo kapan-kapan punya kesempatan untuk snorkeling di Bunaken, Raja Ampat, Maluku, dll. Karena sayang sih di Tidung karang-nya kurang berwarna dan ikan-nya kurang banyak.